Fenomena "Cabe-cabean" dan Perubahan Perilaku Seks Remaja

Dibaca: 4124 kali  Sabtu,08 April 2017
Fenomena
Ket Foto : Fenomena

RIAUTERBIT.COM - Dalam beberapa waktu terakhir, istilah "cabe-cabean" sedang ramai dibicarakan. Istilah tersebut merujuk pada gadis berusia belia yang menjajakan dirinya. Sebenarnya fenomena ini bukan sesuatu yang baru. Menurut seksolog dan spesialis andrologi, Prof. Wimpie Pangkahila, remaja yang menjajakan seks sudah terjadi sejak lama.

Ia mengatakan, sejak tahun 1981, penelitian menunjukkan adanya perubahan pada perilaku seksual remaja. Seks tidak lagi dianggap sebagai hal yang sakral, tetapi semua orang, termasuk remaja, bisa melakukannya.

"Sikap masyarakat yang permisif mungkin menjadi dasar dari perubahan perilaku seksual tersebut. Masyarakat pasti tahu ada perubahan perilaku seks di sekitarnya, namun tidak benar-benar ingin melenyapkannya," ujar Wimpie saat dihubungi Kompas Health pada 2014 lalu.

Perubahan perilaku seks, menurutnya, dipicu oleh pergeseran budaya sosial yang terjadi di masyarakat itu sendiri. Sehingga tidak heran jika anak remaja perempuan pun memiliki keberanian untuk menjajakan seks.

Wimpie menjelaskan, pada dasarnya manusia adalah makhluk seksual sehingga tiap orang memiliki kebutuhan secara seksual. Namun, manusia juga memiliki budaya yang menjaga mereka untuk tidak bebas melakukan aktivitas seksual.

Misalnya, dulu perempuan harus lebih menjaga kehormatannya, tidak boleh memiliki banyak pasangan, dan sebagainya. Namun seiring berubahnya budaya, nilai ini mulai tergerus dan terjadilah perubahan perilaku seksual.

Bukan kelainan otak

Wimpie mengatakan, meskipun terjadi perubahan perilaku seksual, namun bukan berarti terjadi kelainan otak pada remaja "cabe-cabean". Bagian otak yang mengatur soal seks ataupun hormon seksual masih normal dan tidak terjadi kelainan.

"Jika terjadi kelainan, maka gejalanya berbeda lagi. Ini otak, hormon, fungsi biologis seharusnya normal, hanya perilaku seksualnya saja yang mengalami perubahan," tegas Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini.

Menurutnya, baik remaja perempuan, laki-laki, maupun pelanggannya mungkin tidak mengalami kelainan otak terkait seks. "Ini hanya urusan perubahan perilaku seksual karena pergeseran budaya sosial," pungkasnya.(*)

Akses RiauTerbit.Com Via Mobile m.riauterbit.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »