Pekanbaru — Ruang rapat di Kantor DPD I Partai Golkar Riau, Kamis malam, 23 Juli 2026, dipenuhi wajah-wajah lama dan baru. Di kursi paling depan, H. Yulisman, S.Si., M.M., memimpin rapat pleno perdana setelah kepengurusan Partai Golkar Riau periode 2025–2030 resmi disahkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.
Tak banyak basa-basi. Yulisman langsung mengarahkan pembahasan pada agenda yang menurutnya paling mendesak: pelantikan pengurus, pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda), hingga percepatan Musyawarah Daerah (Musda) di seluruh kabupaten dan kota di Riau.
"Yang duduk di kepengurusan harus memiliki komitmen yang kuat untuk membesarkan partai. Kita ingin Golkar kembali menjadi partai pemenang," kata Yulisman di hadapan jajaran pengurus.
Bagi sebagian kalangan, terpilihnya Yulisman sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Riau bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Perjalanan politiknya berlangsung panjang, dimulai dari dunia kemahasiswaan hingga kini dipercaya memimpin salah satu partai politik terbesar di Indonesia.
Saat menempuh pendidikan di Universitas Riau, Yulisman dikenal sebagai aktivis yang aktif menyuarakan aspirasi mahasiswa. Ia kemudian dipercaya menjadi Presiden Mahasiswa Universitas Riau. Pada masa itu, namanya kerap muncul dalam berbagai aksi demonstrasi yang mengangkat isu-isu publik dan pembangunan daerah.
Latar belakang sebagai aktivis membentuk gaya kepemimpinan Yulisman. Rekan-rekan seperjuangannya mengenalnya sebagai sosok yang sederhana, mudah bergaul, dan terbiasa berdialog dengan berbagai kelompok masyarakat. Karakter itu pula yang kemudian membawanya aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi yang menjadi tempat lahir banyak tokoh nasional.
Kini, Yulisman menjabat sebagai Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Riau. Jejak organisasi itu pula yang mempertemukannya dengan banyak tokoh nasional, termasuk Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang sama-sama berasal dari keluarga besar HMI.
Namun, perjalanan politik Yulisman sesungguhnya bertumpu pada Partai Golkar. Ia dikenal sebagai kader yang tumbuh dari bawah dan dibina oleh tokoh senior Golkar, Akbar Tanjung. Pengalaman panjang di internal partai membuatnya memahami dinamika organisasi, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
Karier politiknya terus menanjak. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua DPRD Provinsi Riau, sebelum akhirnya terpilih sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Riau II.
Meski telah berada di Senayan, Yulisman tetap dikenal sering turun ke daerah pemilihannya. Kabupaten demi kabupaten di wilayah Riau II rutin dikunjunginya untuk menyerap aspirasi masyarakat. Kehadirannya di berbagai pelosok membuat hubungan dengan konstituen tetap terjaga.
Dalam perjalanan politiknya, Yulisman juga dikenal memiliki hubungan yang dekat dengan almarhum Chaidir MM, mantan Ketua DPRD Riau. Kedekatan itu disebut banyak pihak ikut membentuk cara pandangnya dalam membangun komunikasi politik yang mengedepankan dialog.
Di luar aktivitas politik, Yulisman dinilai memiliki jaringan yang luas. Ia menjalin komunikasi dengan berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, akademisi, organisasi kepemudaan, pengusaha, kontraktor, hingga insan pers. Sejumlah kader yang pernah berproses bersamanya kini menempati posisi strategis di berbagai bidang, baik sebagai penyelenggara pemilu, profesional, maupun pelaku usaha.
Kepengurusan Partai Golkar Riau yang dipimpinnya telah memperoleh pengesahan melalui Surat Keputusan DPP Partai Golkar Nomor Skep-168/DPP/GOLKAR/VI/2026 yang ditandatangani Ketua Umum Bahlil Lahadalia dan Sekretaris Jenderal Muhammad Sarmuji pada 30 Juni 2026.
Dalam struktur baru itu, Yulisman didampingi Suparman sebagai Sekretaris dan Rinor Kuswan sebagai Bendahara. Bersama jajaran pengurus lainnya, mereka akan memimpin konsolidasi organisasi menuju agenda politik berikutnya.
Bagi Yulisman, kepemimpinan di Partai Golkar Riau bukan sekadar jabatan organisasi. Ini adalah kelanjutan dari perjalanan panjang seorang aktivis kampus yang menapaki dunia politik secara bertahap—dari ruang-ruang diskusi mahasiswa, memimpin parlemen daerah, hingga kini mengemban amanah sebagai anggota DPR RI sekaligus Ketua DPD I Partai Golkar Riau.
Tantangan di depan tidak ringan. Konsolidasi internal, penguatan struktur hingga akar rumput, dan persiapan menghadapi Pemilu 2029 menjadi pekerjaan besar yang menanti. Namun, dengan pengalaman organisasi dan politik yang telah ditempanya selama puluhan tahun, Yulisman kini memasuki babak baru sebagai nahkoda Partai Golkar di Bumi Lancang Kuning. (rls)

