Biaya Rp 390 Juta, Hampir Separuh Peserta Sakit: PMA Unilak di Hotel Grand Elite Diduga Keracunan Makanan

Biaya Rp 390 Juta, Hampir Separuh Peserta Sakit: PMA Unilak di Hotel Grand Elite Diduga Keracunan Makanan

PEKANBARU — Kegiatan Peningkatan Mutu Akademik (PMA) Universitas Lancang Kuning (Unilak) di Hotel Grand Elite Pekanbaru menyisakan tanda tanya besar. Selain menelan anggaran hingga Rp 390 juta, kegiatan tersebut juga berujung pada insiden gangguan kesehatan massal yang dialami 88 dari 184 mahasiswa peserta, atau hampir separuh total peserta.

Puluhan mahasiswa mengalami diare, sakit perut, dan muntah-muntah secara bersamaan usai menyantap makan siang yang disediakan pihak hotel pada Jumat (9/1/2026), hari terakhir kegiatan.

Data panitia menunjukkan, dari 88 mahasiswa terdampak, 41 orang mengeluh sakit perut, 28 diare, dan 19 muntah-muntah. Sejumlah mahasiswa mengaku harus bolak-balik ke toilet hingga belasan bahkan puluhan kali.

“Awalnya saya kira cuma saya yang sakit. Ternyata hampir semua teman satu kelompok mengalami hal yang sama,” ujar seorang mahasiswa peserta kegiatan.

Dugaan Keracunan Menguat

Kepala Biro Akademik Unilak Ade Irwanda mengakui keluhan muncul usai makan siang dan terjadi hampir bersamaan, sebuah pola yang lazim pada kasus keracunan makanan.

“Kami belum bisa memastikan penyebabnya tanpa keterangan medis. Tapi memang keluhan muncul setelah makan,” kata Ade.

Hingga kini, tidak ada laporan resmi uji laboratorium terhadap makanan, air, atau dapur hotel. Tidak pula disampaikan apakah ada pemeriksaan dari Dinas Kesehatan setempat, meski jumlah korban tergolong besar.

Dana Beasiswa Tersedot Acara Hotel

Insiden ini makin menuai sorotan karena PMA dibiayai dari dana beasiswa berprestasi Pemprov Riau. Berdasarkan data, Biro Kesra Pemprov Riau mengucurkan Rp 1.655.998.400 untuk 184 mahasiswa Unilak angkatan 2023.

Dari total tersebut, Rp 390.098.400 dialokasikan khusus untuk kegiatan PMA di Hotel Grand Elite. Artinya, setiap mahasiswa “dibebani” biaya Rp 2.120.100 per orang.

Ironisnya, selama tiga hari kegiatan:

Mahasiswa tidak menginap di hotel

Hanya menerima uang transportasi Rp 100 ribu per hari

Kegiatan dapat digelar di dalam kampus dengan biaya jauh lebih rendah

Kampus: Hotel Dipilih Agar “Aman”

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unilak Dr. Hardi berdalih, pemilihan hotel dilakukan demi transparansi dan akuntabilitas anggaran.

“Kalau di kampus nanti dipersoalkan. Kalau di hotel ada harganya,” kata Hardi.

Namun pernyataan ini justru memunculkan pertanyaan lanjutan: apakah mahalnya biaya otomatis menjamin mutu dan keamanan?

Fakta di lapangan menunjukkan, kegiatan berbiaya ratusan juta rupiah tersebut justru berujung gangguan kesehatan massal mahasiswa penerima beasiswa.

Manajemen Hotel Grand Elite Disorot

Kasus ini juga menyeret sorotan tajam ke manajemen Hotel Grand Elite Pekanbaru. Informasi internal menyebutkan, hotel tersebut tengah berada dalam kondisi tata kelola yang tidak stabil sejak wafatnya sang pemilik, Dedi Handoko (DH), beberapa bulan lalu.

Pasca kepergian DH, manajemen disebut kehilangan figur pemimpin sentral, memicu tarik-menarik kepentingan dan perebutan dominasi internal. Situasi ini diduga berdampak pada pengawasan operasional, termasuk standar kebersihan dapur dan kualitas konsumsi.

Jika dugaan ini terbukti, maka insiden sakit massal mahasiswa bukan sekadar kecelakaan, melainkan cermin kegagalan tata kelola layanan publik di sektor perhotelan.

Hotel Belum Buka Data Teknis

Perwakilan manajemen Hotel Grand Elite, Henni, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Unilak dan melakukan klarifikasi internal.

Namun hingga berita ini diturunkan:

Tidak ada hasil pemeriksaan dapur

Tidak ada uji sampel makanan

Tidak ada penjelasan teknis penyebab sakit massal

Padahal, insiden ini melibatkan dana publik, institusi pendidikan, dan keselamatan mahasiswa. (*)

 

Berita Lainnya

Index