Pemuda Kampung Godang Bangkinang Siap Hadang Mahasiswa yang Demo Bupati Kampar

Pemuda Kampung Godang Bangkinang Siap Hadang Mahasiswa yang Demo Bupati Kampar
Darwis / Ocu Dowi Uwang Sumondo Kampung Godang

Bangkinang — Suhu politik di Kabupaten Kampar menjelang awal November 2025 kian panas. Setelah Forum Pemuda Mahasiswa Kampar-Riau (FPMK-RIAU) memastikan akan menggelar aksi unjuk rasa besar pada Senin, 3 November 2025 di Kantor Bupati Kampar, kini muncul gelombang reaksi keras dari warga yang menilai gerakan tersebut tidak lagi murni.

Sejumlah pemuda Kampung Godang Bangkinang Seberang, yang merupakan kampung asal Bupati Kampar Ahmad Yuzar, menyatakan siap menghadang aksi mahasiswa yang dianggap provokatif dan menodai marwah daerah.

Tokoh muda Kampung Godang, Ocu Dowi, menegaskan bahwa pihaknya bersama masyarakat setempat telah sepakat turun ke lapangan jika aksi mahasiswa tetap dilanjutkan. Menurutnya, gerakan FPMK-RIAU sudah melenceng dari tujuan moral dan kini sarat kepentingan politik yang menyerang pribadi bupati.

“Demo itu tidak lagi mewakili suara rakyat Kampar. Kami akan tolak, bahkan hadang, bila mereka datang mengganggu Bupati Ahmad Yuzar yang merupakan putra Kampung Godang Bangkinang Seberang. Kami sudah sepakat bentrok dengan mahasiswa kalau perlu,” ujar Ocu Dowi, Jumat malam (31/10/2025).

Ia menyebutkan, sedikitnya 200 pemuda dari berbagai suku dan kelompok adat di wilayah Bangkinang Seberang siap dikerahkan untuk mengamankan Bupati Kampar dari aksi yang dinilai provokatif tersebut. Ocu Dowi mengaku, sikap itu bukan spontan, tetapi telah melalui musyawarah bersama pemuda adat, para datuk, dan ninik mamak Kampung Godang yang menilai perlu ada pembelaan terhadap pemimpin daerah mereka.

“Aksi tandingan ini sudah kami rapatkan dengan pemuda adat, datuk-datuk, dan para ninik mamak. Ini bukan soal politik, tapi soal marwah. Kami tidak akan diam kalau pemimpin kami diganggu dan dizalimi di kampung sendiri,” tegasnya.

Sementara itu, aksi unjuk rasa FPMK-RIAU yang akan digelar pada Senin mendatang disebut menyoroti dugaan nepotisme dalam proses evaluasi pejabat (JPT Pratama) serta pembelian mobil dinas mewah Toyota Vellfire senilai Rp1,8 miliar. Namun, di tengah kritik itu muncul kabar bahwa demonstrasi tersebut bermuatan politik dan berhubungan dengan konflik pribadi antara Sekda Kampar Hambali dan Bupati Ahmad Yuzar.

Bahkan, Ketua FPMK-RIAU, Ahyar Chomel, disebut sempat menyatakan akan menggelar demo besar bila Bupati Ahmad Yuzar tidak membuka rekonsiliasi dengan Sekda Hambali. Ahyar menilai Hambali adalah tokoh yang dizalimi dan layak dibela. Di sisi lain, muncul dugaan bahwa aksi itu juga mendapat dukungan sejumlah pihak luar, termasuk kontraktor lokal, yang disebut kecewa dengan kebijakan Pemkab Kampar pasca menurunnya pengaruh Hambali di birokrasi.

Sumber di internal Pemkab Kampar menyebut, perseteruan antara Bupati Ahmad Yuzar dan Sekda Hambali sudah berlangsung lama dan kini merembet ke lapangan sosial politik. “Hambali merasa dilemahkan, sementara Bupati ingin menegaskan otoritasnya. Sayangnya, sekarang rakyat yang jadi penonton dua kubu ini,” kata seorang pejabat yang enggan disebut namanya.

Di tengah ketegangan itu, potensi bentrokan massa semakin terbuka. Dua kelompok sama-sama mengklaim mewakili suara rakyat Kampar, namun dengan tujuan berlawanan. FPMK-RIAU akan turun menuntut transparansi dan keadilan, sementara pemuda Kampung Godang siap turun untuk menjaga martabat dan kehormatan Bupati.

Pihak kepolisian Polres Kampar kini tengah melakukan koordinasi intensif untuk menjaga keamanan agar tidak terjadi gesekan di lapangan. “Kami akan menempatkan personel pengamanan di titik-titik rawan agar aksi berjalan kondusif,” ujar seorang sumber kepolisian.

Situasi menjelang 3 November kini berubah menjadi ujian besar bagi stabilitas politik dan sosial di Kampar. Konflik antara elite daerah kini telah menyeret mahasiswa, pemuda, bahkan elemen adat ke dalam pusaran yang makin sulit dibedakan antara idealisme, loyalitas, dan kepentingan kekuasaan. (rls)

Berita Lainnya

Index