TELUK KUANTAN – Festival Pacu Jalur 2025 di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, dipastikan akan kedatangan tamu istimewa. Rapper asal Amerika Serikat, Melly Mike, dijadwalkan tampil langsung pada acara penutupan festival yang berlangsung di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, 20–24 Agustus 2025 mendatang.
Kepastian kehadiran musisi internasional itu disampaikan Ketua Panitia Festival Pacu Jalur 2025, Werry Ramadhana Putra, Kamis, 10 Juli 2025. “Iya bang, Melly Mike akan datang ke Kuansing. Beliau sendiri yang meminta untuk tampil. Rencananya saat penutupan,” kata Werry.
Nama Melly Mike mendadak lekat dengan Pacu Jalur sejak lagu hit-nya, Young Black and Rich, menjadi latar viral dalam video anak-anak penari di ujung perahu jalur. Gaya mereka—memainkan ekspresi wajah dan gerakan lincah—populer dengan sebutan “aura farming” dan mengantarkan Pacu Jalur ke panggung digital global.
“Budaya ini punya kekuatan luar biasa,” ujar Melly Mike dalam unggahan videonya di TikTok. “Saya terinspirasi melihat anak-anak menari penuh semangat di ujung perahu. Saya merasa terhubung dengan semangat itu.
Pacu Jalur yang semula hanya dikenal sebagai perlombaan dayung tradisional kini menjelma menjadi ikon budaya visual. Pada 2024, gaya “aura farming” yang diiringi lagu Young Black and Rich menembus trending global di TikTok dengan tagar #AuraFarming dan #PacuJalur, mencatat lebih dari 150 juta penayangan.
Popularitas gaya ini merambah ke luar negeri. Beberapa kreator konten dari Jepang, Filipina, hingga Amerika Latin ikut mengunggah ulang video anak-anak Kuansing tersebut, meniru gerakan dan ekspresi mereka.
Di dalam negeri, dampaknya juga terasa. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bahkan sempat menirukan gerakan ikonik Pacu Jalur dalam sebuah acara santai di Istana Wapres. Aksinya itu terekam dalam video yang tersebar luas dan menuai pujian karena dianggap mendukung budaya lokal dengan pendekatan kekinian.
Momentum Budaya Global
Bupati Kuantan Singingi, Suhardiman Amby, menyambut baik kehadiran Melly Mike sebagai bagian dari transformasi budaya Pacu Jalur. Menurut dia, fenomena ini menunjukkan bahwa warisan lokal dapat menjangkau audiens internasional jika dipresentasikan secara kreatif.
“Pacu Jalur adalah warisan budaya tak benda yang kini berbicara di panggung dunia. Kita bangga karena dunia mengenal Kuansing lewat kekuatan tradisinya,” ujar Suhardiman.
Pacu Jalur bukan lagi sekadar lomba perahu hias di sungai, melainkan sebuah panggung budaya yang menyatukan lokalitas, ekspresi digital, dan perhatian global. Festival tahun ini diprediksi menjadi salah satu gelaran paling semarak dalam sejarah tradisi tersebut. (*)

