PEKANBARU – Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) kembali membuka penerimaan mahasiswa baru untuk tahun akademik 2025/2026. Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, yang menilai keberadaan AKMR sangat penting dalam menjaga dan mengembangkan identitas kebudayaan Melayu di Bumi Lancang Kuning.
“LAM Riau mendukung penuh AKMR untuk kembali menerima mahasiswa baru, karena keberadaan AKMR sangat penting bagi Riau,” kata Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau, Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf, dalam acara penandatanganan Warkah Kesepahaman antara LAM Riau dan AKMR di Balai Adat LAM Riau, Jalan Diponegoro, Pekanbaru, Senin (26/5/2025).
Penandatanganan Warkah Kesepahaman tersebut dilakukan oleh Ketua Dewan Pengurus Harian (DPH) LAM Riau, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, dan Direktur AKMR, Dr. Muhammad Syafii Jalil, M.Si. Hadir sebagai saksi Ketua MKA LAM Riau dan Ketua Yayasan Pusaka Riau, H. Kazzaini Ks, yang juga menjadi salah satu tokoh pendiri AKMR.
Warkah ini menjadi tonggak awal sinergi baru antara LAM Riau dan AKMR untuk memperkuat posisi akademi ini sebagai lembaga pendidikan tinggi seni berbasis budaya Melayu. Salah satu poin pentingnya adalah komitmen LAM Riau untuk mengoordinasikan seluruh LAM Kabupaten/Kota di Riau agar turut mendukung eksistensi AKMR.
“Kita sungguh khawatir, jika tidak ada lembaga pendidikan tinggi resmi seperti AKMR, Riau sebagai negeri Melayu akan kehilangan identitas. Ini tentu berdampak pula pada identitas bangsa,” ujar Datuk Seri Marjohan.
Ketua DPH LAM Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menegaskan bahwa dukungan masyarakat sangat dibutuhkan. “Warkah ini menjadi dasar bagi dua lembaga ini untuk bergerak memperkuat AKMR. Semua komponen masyarakat Riau perlu mendukung, karena AKMR adalah cerminan budaya kita,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur AKMR Dr. Muhammad Syafii Jalil mengumumkan bahwa penerimaan mahasiswa baru akan dibuka mulai 9 Juni 2025. “Kami membuka tiga program studi: Seni Tari, Seni Musik, dan Seni Teater. Silakan anak-anak muda Riau bersiap-siap,” katanya.
Ia menegaskan bahwa AKMR siap mendidik generasi muda menjadi pelaku seni yang terampil dan profesional, dengan dasar pemahaman kuat terhadap nilai-nilai budaya Melayu.
Tokoh Melayu Riau, H. Kazzaini Ks, mengatakan bahwa AKMR didirikan dengan cita-cita luhur oleh para seniman dan budayawan Riau pada tahun 2002. “AKMR lahir dari keprihatinan, bahwa ketika daerah lain sudah punya pendidikan tinggi seni seperti ISI Yogyakarta, ISI Solo, ISI Padangpanjang, dan lainnya—Riau belum punya,” katanya.
Didirikan bersamaan dengan pembangunan Gedung Idrus Tintin, AKMR menjadi simbol tekad Riau membangun pendidikan seni berbasis budaya sendiri. Namun, sebagai lembaga nonpemerintah, perjuangan AKMR tidak mudah. Tidak seperti lembaga seni lain yang dibiayai negara, AKMR mengandalkan semangat dan dukungan masyarakat.
Kini, kata Kazzaini, beberapa tokoh kembali berazam mengangkat batang terendam ini. “Ini adalah upaya agar kita tidak kehilangan identitas budaya,” tegasnya.
Dengan dibukanya kembali pendaftaran mahasiswa baru, AKMR bukan sekadar melanjutkan perjalanan akademik, tetapi juga memperkuat jati diri Riau sebagai negeri berbudaya. Sebuah panggilan untuk semua anak negeri yang ingin menjadi bagian dari perjuangan melestarikan dan menghidupkan seni Melayu. (*)

