Pekanbaru – Tangis dan amarah pecah di ruang duka. Seorang pasien yang awalnya dirawat dalam kondisi stabil di RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru, meninggal dunia dengan cara yang memilukan. Keluarga menuding rumah sakit ternama itu lalai dalam memberi pelayanan, hingga mempercepat kepergian orang tercinta.
Pasien yang masuk pada Jumat, 25 April 2025, semula masih bisa makan dan berinteraksi. Namun segalanya berubah cepat. “Hari pertama masih manusiawi, perawat sigap. Tapi mulai hari kedua, kami seperti ditinggalkan,” kata Fathullah, abang almarhum, dengan suara tercekat.
Ia menceritakan bagaimana tanggung jawab dasar seperti memberi makan, membersihkan pasien, hingga menangani buang air besar, dilimpahkan kepada keluarga. “Kami yang harus suapi, ganti pampers, bersihkan tubuhnya. Perawat hanya lewat, tanpa peduli,” ujarnya getir.
Yang lebih memilukan, ketika pasien mulai kesulitan makan dan harus diberi melalui selang sonde, tubuhnya menolak, muntah hebat, sementara petugas medis tetap tidak bertindak sigap. “Kami sampaikan keluhan, tapi tidak digubris. Pasien terbaring basah, berbau, dan tidak ada yang menggubris.”
Tragedi mencapai titik nadir pada Senin, 28 April 2025, pukul 05.00 WIB. Pasien tersengal, lendir menumpuk di tenggorokan. Keluarga panik, memohon tindakan penyedotan lendir. Tapi respons yang mereka harapkan tidak pernah datang.
“Tiga jam kami menunggu tindakan. Kami elus dadanya, berharap mukjizat. Tapi jam delapan pagi, dia pergi. Mati perlahan di depan kami, tanpa bantuan yang semestinya,” ujar Fathullah sambil menahan air mata.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak RS Awal Bros belum memberikan penjelasan resmi. Saat dikonfirmasi, pengelola rumah sakit, dr. Jimmy, hanya menyampaikan bahwa pihaknya akan mempelajari kasus ini. “Kami selalu berkomitmen memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya singkat.
Kini keluarga tengah mempertimbangkan jalur hukum. Mereka menuntut pertanggungjawaban. “Dia meninggal bukan karena sakitnya semata, tapi karena kelalaian sistem yang seharusnya menyelamatkan,” tegas Fathullah.
Tragedi ini menyisakan pertanyaan besar: Seberapa aman kita di tangan sistem kesehatan yang tak lagi mengedepankan empati? (juf)

