Musyawarah Seniman dan Tanggung Jawab Peradaban Kesenian Riau

Musyawarah Seniman dan Tanggung Jawab Peradaban Kesenian Riau

Oleh: Azmi bin Rozali

Dewan Kesenian Riau (DKR) kembali berada di titik penting sejarahnya. Di tengah perubahan zaman dan gelombang budaya yang terus bergeser, DKR akan menggelar musyawarah pemilihan ketua umum. Masa kepemimpinan Taufik Hidayat alias Atan Lasak akan segera berakhir, meninggalkan jejak panjang dialektika antara kreativitas dan institusi, antara idealisme dan tantangan birokrasi.

Kini, sejumlah nama mulai disebut-sebut sebagai calon nahkoda baru DKR. Namun musyawarah ini tidak boleh dianggap sebagai ajang perebutan jabatan semata. Ia adalah ruang sakral, tempat nilai-nilai peradaban kesenian Melayu Riau diuji, ditimbang, dan diarahkan.

Pemimpin yang Membudaya

Menjadi Ketua DKR bukan sekadar mengisi posisi struktural. Ia adalah penjaga api kreativitas, penggali makna, dan penafsir zaman. Ia dituntut memahami bukan hanya seni, tapi juga lanskap sosial, teknologi, dan politik kebudayaan yang kian kompleks.

DKR bukan organisasi paguyuban biasa. Ia adalah rumah ide, tempat bertemunya masa lalu dan masa depan dalam kerangka warisan budaya Melayu. Maka pemimpin DKR idealnya adalah pribadi yang telah hidup bersama kesenian, tumbuh di tengah para seniman, dan memahami akar perjuangan kebudayaan secara mendalam.

Ambisi dan Integritas

Tak salah jika ada ambisi. Dalam kadar tertentu, ambisi adalah energi perubahan. Namun tanpa integritas dan niat luhur, ambisi hanya akan melahirkan kompetisi hampa. Seni bukan alat dagang, dan DKR bukan panggung lobi politik.

Posisi ketua seharusnya tidak menjadi pelarian mereka yang gagal di ranah lain, melainkan medan pengabdian bagi mereka yang benar-benar paham bahwa seni adalah denyut nadi masyarakat. Ketua DKR adalah pemimpin gagasan, bukan sekadar pemilik jabatan.

Muafakat sebagai Jalan Budaya

Musyawarah dalam tradisi Melayu adalah ruang muafakat, bukan ajang saling sikut. Musyawarah seniman seyogianya menjadi ruang yang teduh, tempat para calon menyampaikan visi kebudayaan dengan jelas dan terbuka.

Apa gagasan mereka tentang arah kesenian Riau? Bagaimana mereka akan merangkul ragam seni—dari sastra, musik, teater, hingga seni rupa? Bagaimana DKR akan dihidupkan bukan hanya di gedung kesenian, tetapi juga di desa, sekolah, ruang digital, dan ruang kebijakan?

Penjaga Api Zaman

Musyawarah ini sejatinya bukan soal memilih siapa yang menang, tetapi siapa yang sanggup menjaga bara agar tak padam diterpa zaman. Kesenian Riau harus terus tumbuh, berakar, dan memberi napas segar bagi generasi muda.

Kita tidak hanya memilih ketua, kita sedang menentukan arah. Kita bertanggung jawab atas roh kesenian yang hidup dalam tubuh masyarakat Melayu. Mari jaga api, hindari bara. Sebab seni bukan milik perorangan—ia milik kita semua, dan masa depan budaya Riau bergantung padanya.

---

Penulis adalah coach dan trainer nasional. Pernah tiga periode menjabat anggota DPRD Kabupaten Bengkalis (2004–2019).

 

 

 

Berita Lainnya

Index