Pekanbaru-(Riauterbit.com)- Walau sudah beberapa kali diperiksa, hingga kini, Direktur PT Sinar Siap Dian Perkasa (SSDP) Yohanes Sitorus tak kunjung ditetapkan oleh penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penerbitan Sertifikat Hak Milik (SHM) di Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
Bahkan, kali ini, Yohanes Sitorus kembali diperiksa penyidik dalam perkara yang menjerat mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kampar, Zaiful Yusri.
"Yang bersangkutan (Yohanes Sitorus, red) diperiksa sebagai saksi. Untuk melengkapi berkas tersangka ZY," ujar Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) dan Humas Kejati Riau, Mukhzan, Senin (15/06/15).
Keterangan Yohanes, kata Mukhzan, sangat diperlukan untuk mengungkap kasus yang diduga telah merugikan keuangan negara sebesar Rp5 miliar.
"Karena dia sebagai pihak yang mengajukan penerbitan SHM di Kawasan TNTN tersebut," lanjut Mukhzan.
Seperti diketahui, tersangka kasus penyorobotan lahan seluas 550 hektare milik Lokalitbang Lembah Madu di Lubuk Sakat, Siak Hulu, Kabupaten Kampar oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau ini, sudah beberapa diperiksa terkait dugaan korupsi dalam penerbitan SHM di Kawasan TNTN.
Dalam setiap pemeriksaan, Yohanes tetap sebagai saksi. Padahal, dalam kasus itu, Yohanes adalah pihak yang mengajukan penerbitan SHM.
Menanggapi hal ini, Mukhzan menyatakan kalau untuk saat ini pemanggilan terhadap Yohanes memang masih sebagai saksi. Namun tidak menutup kemungkinan jika status pemilik percetakan Indah Warna tersebut berubah menjadi tersangka.
"Jika ditemukan adanya alat bukti yang kuat, tentu bisa ditingkatkan (menjadi tersangka). Kita tunggu saja penyidik bekerja," pungkas Mukhzan.
Untuk diketahui, setelah menemukan dua alat yang cukup, akhirnya penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau menetapkan mantan Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Kampar, Zaiful Yusri, sebagai tersangka.
Kasus tersebut bermula pada tahun 2003-2004, saat itu BPN Kampar menerbitkan 271 Sertifikat Hak Milik (SHM) atas nama 28 orang seluas 511,24 hektar. Penerbitan SHM tersebut tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pendaftaran tanah dan tata cara pemberian hak atas tanah sebagaimana diatur Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 tahun 1997 dan Peraturan Kepala Badan Nomor : 03 tahun 1999 jo Nomor : 09 tahun 1999.
Saat itu Kantor BPN Kampar tidak mengisi blanko risalah pemeriksaan tanah dengan benar namun hal tersebut telah dijadikan dasar untuk merekomendasikan pemberian hak milik kepada pemohon SHM, yang berada di Kawasan Hutan Tesso Nilo di Desa Bulu Nipis, yang sekarang bernama Desa Kepau Jaya, kecamatan Siak Hulu, Kampar.
Akibatnya negara dirugikan sebesar Rp5 miliar, dan melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (Beritariau)
Diperiksa soal korupsi penerbitan SHM di Hutan Lindung Teso Nilo, Yohanes Sitorus masih jadi Saksi
Kantor Redaksi
Sabtu, 20 Juni 2015 - 00:55:46 WIB
Peta Hutan
Pilihan Redaksi
IndexPuluhan ASN Meranti Pindah ke Kementerian Haji, DPRD Soroti Risiko Kekosongan Pegawai
Bupati Asmar Sambut Empat Wakil Riau Asal Meranti Usai Berlaga di MTQ Nasional
Kunjungi Korban Kebakaran, Bupati Meranti Serahkan Bantuan dan Janji Bangun Rumah
Razia Pekat di Meranti, Petugas Gerebek Kamar Kos dan Temukan Pasangan Bukan Suami Istri.
Kapolres Meranti AKBP Gede Adi Turun Langsung Patroli Malam di Selatpanjang
Tulis Komentar
IndexBerita Lainnya
Index Hukrim
Razia Pekat di Meranti, Petugas Gerebek Kamar Kos dan Temukan Pasangan Bukan Suami Istri.
Ahad, 20 September 2026 - 21:05:45 Wib Hukrim
Satresnarkoba Polres Meranti Ringkus Tiga Pengedar Ekstasi
Senin, 14 September 2026 - 20:04:56 Wib Hukrim
Polsek Tebing Tinggi Berhasil Ringkus Pelaku Curanmor Di Jalan Imam Bonjol
Senin, 14 September 2026 - 11:00:31 Wib Hukrim
Polsek Tebing Tinggi Bekuk Terduga Pencuri Ruko Peralatan Bangunan
Jumat, 11 September 2026 - 21:55:27 Wib Hukrim

