Iwan, Suparman, dan Nilai Persaudaraan Melayu: Ketika Perselisihan Menjadi Pelajaran dan Ruang Maaf Tak Pernah Tertutup
Oleh: Abuzar KADAR
Perseteruan yang menyeret nama Iwan Pansa dan Suparman dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian publik di Pekanbaru dan sebagian masyarakat Riau. Potongan video yang beredar luas di media sosial menghadirkan beragam reaksi, mulai dari kecaman, keprihatinan, hingga candaan di ruang-ruang diskusi masyarakat.
Di tengah suasana yang memanas itu, sikap para tokoh tua Melayu justru menarik dicermati. Banyak sesepuh memilih diam dan tidak ikut memperkeruh keadaan. Sebagian hanya menyinggung persoalan tersebut secara ringan, bahkan sambil berseloroh. Sikap demikian sesungguhnya mencerminkan watak masyarakat Melayu yang sejak dahulu menjunjung nilai kesantunan, keseimbangan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi persoalan.
Tanah Melayu dibangun di atas nilai asah, asih, dan asuh. Perbedaan pandangan atau konflik tidak semestinya menjelma menjadi permusuhan berkepanjangan. Dalam adat Melayu, marwah dijaga bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kemampuan mengendalikan diri dan membuka ruang maaf.
Karena itu, apa yang terjadi hendaknya menjadi pelajaran bersama. Memaki orang tua di ruang terbuka tentu bukan tindakan yang patut dibenarkan. Apalagi di tengah masyarakat Timur yang menjunjung tinggi adab dan penghormatan kepada yang lebih tua. Namun demikian, seseorang yang telah mengakui kesalahan dan menyampaikan permintaan maaf juga layak diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Iwan Pansa telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media. Itu menunjukkan adanya penyesalan atas ucapan yang disampaikan. Dalam tradisi Melayu, pengakuan salah dan kesediaan meminta maaf merupakan bagian penting dari upaya memulihkan hubungan sosial.
Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang dapat tergelincir oleh emosi dan kekhilafan. Karena itu, masyarakat juga dituntut bijaksana dalam menyikapi sebuah kesalahan. Mengingatkan perlu, tetapi tidak dengan cara memperpanjang kebencian atau membuka ruang penganiayaan sosial.
Iwan juga diharapkan tetap menjaga semangat dan energi positifnya di tengah masyarakat. Kedekatan dengan kalangan muda dan ruang sosial yang selama ini dibangun masih bisa diarahkan kepada hal-hal yang lebih bermanfaat. Namun pengalaman ini semestinya menjadi pengingat bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi, terlebih di era media sosial yang serba terbuka.
Dalam kehidupan, tidak ada kekuatan yang abadi. Hari ini seseorang mungkin berada di puncak popularitas dan pengaruh, tetapi waktu akan mengubah banyak hal. Karena itu, kepekaan, rendah hati, dan kemampuan menjaga tutur kata menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan sosial.
Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu menahan diri agar persoalan ini tidak berkembang menjadi upaya saling menjatuhkan. Jika ada proses hukum yang berjalan, biarkan mekanisme negara bekerja sesuai aturan. Negara memiliki aparat dan perangkat hukum untuk menyelesaikan persoalan secara proporsional.
Kepada Suparman, ajakan yang sama juga layak disampaikan. Perselisihan hendaknya diselesaikan dengan kepala dingin dan semangat persaudaraan. Dalam pepatah Melayu disebutkan, “tiada gading yang tak retak.” Setiap manusia memiliki kekurangan dan ruang untuk memperbaiki diri.
Yang patut diapresiasi dalam peristiwa ini adalah sikap Datuk Taufik Tambusai yang dinilai mampu menahan amarah di tengah situasi yang memanas. Kemampuan mengendalikan emosi saat berada di puncak kemarahan merupakan bentuk kedewasaan yang semakin langka di ruang publik hari ini.
Dalam tradisi orang tua Melayu, sabar dan salat selalu menjadi jalan untuk meredakan amarah serta menjernihkan pikiran. Nilai-nilai itu pula yang semestinya tetap hidup di tengah masyarakat modern yang kian mudah terprovokasi oleh suasana media sosial.
Pada akhirnya, masyarakat Riau membutuhkan keteduhan, bukan kegaduhan yang berkepanjangan. Perbedaan pendapat jangan sampai merusak persaudaraan dan meruntuhkan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi identitas masyarakat Melayu.
Semoga kehidupan masyarakat tetap berada dalam suasana damai, saling menghormati, dan penuh kasih sayang, serta senantiasa mendapat rahmat dan petunjuk dari Allah SWT.