Bangkinang – Rencana Pemerintah Kabupaten Kampar untuk merehabilitasi Taman Kota Bangkinang dan Islamic Center kembali memantik perhatian publik. Tokoh masyarakat sekaligus pemerhati pembangunan, Nur Adlin, menegaskan agar program tersebut benar-benar dijalankan dengan perencanaan matang, terukur, dan terintegrasi dalam pembangunan wajah ibu kota Kampar.
Menurutnya, masyarakat dapat memahami kebutuhan mempercantik wajah kota, tetapi pemerintah tidak boleh mengabaikan fakta bahwa pembangunan sebelumnya banyak meninggalkan pekerjaan yang dianggap mubazir. Ia menyoroti kubah-kubah di Taman Kota yang cepat berkarat, sebagai bukti lemahnya spesifikasi material yang digunakan.
“Baru saja dibangun, tapi sudah direhab lagi. Kalau memang tidak bermanfaat, tentu ada pihak yang harus bertanggung jawab. Apa kita tidak mampu mencari material yang tahan cuaca dan arsitektur yang lebih baik?” ujar Nur Adlin di Bangkinang, Selasa (16/9/2025).
Ia juga mengingatkan Bupati Kampar agar tidak lagi melibatkan pihak-pihak lama yang dinilai gagal menyelesaikan pekerjaan serupa.
“Kalau bisa, jangan libatkan penjahit lama untuk memperbaiki kain yang rusak. Bahkan untuk mengukur dan menggunting pun sebaiknya jangan diberi kesempatan. Kita butuh sentuhan baru dengan konsep yang benar-benar terencana,” tegasnya.
Sejumlah catatan memang mengiringi proyek penataan ruang kota dan bangunan publik di Bangkinang. Renovasi Islamic Center yang sedang dipersiapkan mencakup perbaikan kubah, penggantian plafon, jaringan listrik, pencahayaan, lantai, hingga toilet, dengan target selesai pada Desember 2025.
Sebelumnya, proyek penataan Taman Kota tahun ini Pemda Kampar kembali mengalokasikan Rp3,8 miliar untuk penataan ulang, meski DPRD menilai waktunya kurang tepat karena kondisi taman masih relatif bagus.
Nur Adlin juga menyoroti kesan tidak terintegrasi antara bangunan utama Islamic Center dengan pagar maupun pintu gerbang yang berbeda gaya arsitektur, sehingga wajah kota terlihat semrawut. Ia berharap rehabilitasi yang direncanakan kali ini benar-benar mengikuti rencana besar tata kota Bangkinang.
“Kami sebagai masyarakat akan ikut mengawal. Kalau perlu, kita adendum bila ada keamburadulan dalam pelaksanaannya. Itu fungsi dan hak rakyat,” katanya.
Menurutnya, kritik dan masukan dari masyarakat lahir dari niat menjaga marwah pembangunan ibu kota Kampar agar lebih indah, tertata, dan bermanfaat bagi semua pihak. (rls)