Oleh: Ihsan Maulana Mukti Pamungkas, Mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya
Sungai tidak hanya sekadar saluran air, melainkan representasi dari peradaban. Dalam sejarah kota-kota besar di dunia, sungai menjadi pusat kehidupan: sumber air, jalur transportasi, hingga ruang tumbuhnya budaya. Namun, di banyak daerah Indonesia, sungai kini lebih sering diperlakukan sebagai tempat pembuangan.
Sungai Mulyorejo, misalnya, menghadapi pencemaran serius akibat limbah rumah tangga dan industri. Bau menyengat serta penurunan kualitas air menjadi gejala nyata yang menandai krisis ekologi di tingkat lokal.
Masalah ini menunjukkan betapa rapuhnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap lingkungan. Sungai yang seharusnya dijaga sebagai aset bersama, justru menjadi korban pola hidup instan dan abai. Pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan regulasi dan infrastruktur pengelolaan limbah, tetapi upaya itu kerap tidak berjalan efektif tanpa dukungan masyarakat.
Di titik inilah peran mahasiswa menjadi relevan. Dengan posisi mereka sebagai agen perubahan, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menyampaikan kritik, tetapi juga menghadirkan solusi.
Edukasi lingkungan melalui kampanye kreatif, lokakarya di tingkat RT/RW, hingga pengenalan teknologi sederhana seperti biofilter dapat menjadi kontribusi nyata. Kehadiran mahasiswa di ruang digital juga penting: konten edukatif di media sosial mampu membangun opini publik lebih cepat daripada instruksi birokrasi.
Kebersihan sungai sejatinya berkelindan dengan isu kesehatan dan ekonomi. Pedagang kecil yang berjualan di tepi sungai kotor akan kehilangan kepercayaan konsumen, sementara anak-anak yang tumbuh di sekitar aliran tercemar lebih rentan penyakit. Sungai bersih berarti kualitas hidup yang lebih baik.
Karena itu, tugas mahasiswa bukan sebatas merawat gagasan ideal di ruang kuliah, melainkan mengartikulasikannya menjadi gerakan sosial. Sungai yang sehat adalah simbol kolaborasi antara negara, masyarakat, dan kelompok muda yang berani mengambil peran. Jika sungai adalah jantung kota, mahasiswa semestinya hadir sebagai denyut perubahan. (*)