Bupati Kuansing : Terima Kasih, Jurnalis, Tiktoker, Youtuber, Konten Kreator dan Rakyat Kuansing, Pacu Jalur Kini Mendunia

Rabu, 09 Juli 2025 | 09:01:29 WIB
Bupati Kuansing Suhardiman Amby

TELUK KUANTAN – Tradisi Pacu Jalur di Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, kini tak lagi sekadar warisan lokal. Ia telah mendunia. Berkat peran aktif para konten kreator, TikToker, YouTuber, dan media digital, festival perahu panjang ini sukses menarik perhatian dunia.

Lewat unggahan-unggahan singkat yang viral di TikTok, Instagram, hingga YouTube, kekompakan dan atraksi budaya dari para “anak pacu” memikat jutaan pasang mata. Pacu Jalur bukan cuma lomba adu cepat, tetapi juga pertunjukan ritmis penuh makna.

Pemerintah pusat pun memberikan pengakuan resmi. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Pacu Jalur sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyebut Pacu Jalur sebagai tradisi yang ekspresif dan sarat nilai estetika.

“Ini bukan hanya adu kecepatan, tapi juga ekspresi budaya. Menjaga keseimbangan di atas perahu sambil menampilkan gerakan atraktif itu tidak mudah,” ujar Fadli.

Bupati Kuansing, Suhardiman Amby, menyebut keberhasilan ini buah kerja bersama rakyat Kuansing. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memviralkan Pacu Jalur, terutama para kreator konten dan media lokal.

“Ini keberkahan. Semua punya peran, dari konten kreator sampai pelajar, perangkat desa hingga aparat. Mereka semua pejuang budaya,” ucap Suhardiman.

Popularitas Pacu Jalur juga berdampak langsung pada ekonomi lokal. Warung makan, penginapan, hingga kedai kelontong ikut kebagian berkah. Banyak warga bahkan membuka rumahnya jadi tempat inap dadakan.

“Wisata budaya ini nyata memberi kehidupan. Warung pecal kita laku, penginapan penuh, warga tersenyum,” tambahnya.

Suhardiman mengajak seluruh masyarakat menjaga tradisi ini. Ia menekankan pentingnya menyambut tamu dengan ramah agar nama baik Kuansing terus harum.

“Mari kita jaga budaya kita. Layani tamu sebaik-baiknya. Tunjukkan bahwa orang Kuansing itu ramah dan peduli,” pesannya.

Kini, Pacu Jalur bukan sekadar agenda tahunan. Ia telah menjadi festival budaya kelas dunia—simbol kebersamaan, identitas, dan semangat masyarakat Kuansing.(*)

 

Terkini