Pekanbaru – Ratusan, bahkan diduga mencapai ribuan pedagang Pasar Cik Puan atau Pasar Sukajadi, Pekanbaru, menggelar aksi unjuk rasa di Mapolda Riau, Senin (7/7/2025) sekitar pukul 10.00 WIB. Mereka menuntut dibukanya kembali akses putar balik (U-turn) di depan pasar yang sudah lama ditutup oleh pihak terkait.
Aksi yang semula direncanakan di depan Mapolda Riau, Jalan Pattimura, dialihkan ke sisi Jalan WR Supratman—tepat di samping markas kepolisian tersebut—karena kekhawatiran akan menimbulkan kemacetan lalu lintas.
Keluhan Terabaikan Bertahun-tahun
Dalam orasinya, Koordinator Lapangan Aksi Persatuan Pedagang Pasar Cik Puan (P3CP), Sutan Sarmuni Sikumbang dan Ketua P3CP Edi Sabara Manik, menyampaikan bahwa selama bertahun-tahun para pedagang menghadapi berbagai tekanan ekonomi yang terus memburuk.
“Pasar Cik Puan adalah pasar ikonik milik Pemerintah Kota Pekanbaru, satu-satunya yang menggunakan simbol Melayu. Tapi kondisi pasar ini seperti tidak dianggap. Kami sudah terlalu lama terabaikan,” kata Sarmuni.
Menurutnya, selain kerap dilanda musibah kebakaran hingga tujuh kali, penutupan U-turn sejak sekitar tahun 2020 telah memperparah keadaan. Akses kendaraan menjadi terganggu, pembeli enggan datang karena harus memutar jauh, dan pengunjung pasar menurun drastis hingga lebih dari 50 persen.
“Kami Tercekik Secara Ekonomi”
Di balik kios dan los pasar yang kini sepi, ribuan orang menggantungkan hidup. Bukan hanya pedagang, tetapi juga buruh angkut, tukang parkir, tukang sapu, dan pekerja informal lain. Mereka terpaksa berutang ke bank, koperasi, bahkan rentenir, demi menyambung hidup.
“Bayar sewa rumah makin berat, biaya anak sekolah terbengkalai. Banyak dari kami meminjam ke rentenir karena tak ada jalan lain. Kami tercekik secara ekonomi,” tambah Edi Sabara Manik dalam pernyataan sikapnya.
Tuntutan P3CP: Buka Kembali U-Turn
Dalam aksinya, para pedagang menyampaikan tuntutan utama:
1. Membuka kembali U-turn di depan Pasar Cik Puan, yang dinilai sebagai akses vital bagi keluar-masuk pembeli, pedagang, dan kendaraan logistik pasar.
2. Menata lalu lintas dengan cara lebih manusiawi dan bijaksana, bukan dengan penutupan akses yang justru merugikan ekonomi rakyat.
3. Meminta Kapolda Riau dan Dishub Pekanbaru turun langsung ke lapangan melihat dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan akibat kebijakan ini.
“Kalau alasannya macet, maka solusinya adalah penataan. Bukan malah menutup jalan dan membunuh ekonomi rakyat kecil,” ujar Sarmuni.
Ancam Gelar Aksi Lebih Besar
Jika dalam waktu dua minggu tidak ada tanggapan atau realisasi dari pihak berwenang, para pedagang mengancam akan kembali turun ke jalan dengan massa lebih besar.
“Kami bukan ingin melawan, tapi kami bertahan. Bertahan untuk hidup,” tutup Edi Sabara.
Aksi berjalan tertib, namun penuh semangat. Para pedagang membawa spanduk dan poster berisi kecaman serta harapan kepada para pejabat agar segera turun tangan dan memihak kepada rakyat kecil. (hr)