PEKANBARU – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Riau, suhu politik internal partai berlambang pohon beringin itu kian memanas. Sejumlah manuver elit disebut-sebut bertujuan untuk menghambat langkah Wakil Gubernur Riau, SF Haryanto, yang digadang-gadang sebagai calon kuat Ketua DPD Golkar Riau.
Skenario penjegalan itu tampak nyata ketika dalam kunjungan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, di Gedung VIP Lancang Kuning, beberapa waktu lalu, dibawah komando Syamsuar sejumlah Ketua DPD II Kabupaten/Kota tanpa ragu mendeklarasikan dukungan kepada Pahrisman Ikhwan alias Iwan Fattah, sosok yang dinilai sebagai “jagoan” dari lingkaran lama.
Namun, dukungan terhadap SF Haryanto justru datang dari tokoh-tokoh yang memiliki akar kuat dalam tubuh Golkar. Ketua SOKSI Riau, Suparman, telah lebih dulu menyatakan sikap tegas mendukung SF Haryanto melalui media sosial, sebagai bagian dari komitmen moral terhadap kader yang memiliki basis elektoral dan posisi strategis di pemerintahan.
Gelombang ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Golkar Riau saat ini pun terus menguat. Kegagalan memenangkan kursi kepala daerah, termasuk takluknya Syamsuar dalam Pilgub Riau, serta minimnya penguasaan di DPRD provinsi dan kabupaten/kota, menjadi bukti konkret stagnasi dan lemahnya manajemen politik Golkar.
Satu-satunya pencapaian hanyalah bertambahnya kursi DPR RI, tapi secara keseluruhan, ini disebut sebagai kegagalan kolektif. Golkar Riau kini berada di titik nadir, dan dibutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman serta mengganti pola kerja politik yang usang.
Dalam situasi ini, SF Haryanto dianggap sebagai figur alternatif yang bukan hanya memiliki jabatan prestisius, tetapi juga akses kuat ke masyarakat akar rumput, serta potensi kolaborasi strategis dengan Gubernur Riau yang kini dipegang PKB.
"Kolaborasi ini jangan diremehkan. Ini peluang besar membangun jembatan politik antara dua kekuatan besar demi kesejahteraan rakyat. Potensi ini harus dirawat, bukan dimatikan hanya karena ambisi pribadi segelintir elite," kata salah seorang kader senior yang enggan disebutkan namanya.
Tokoh Golkar Riau, Helmi Jazid, secara terbuka menyentil mantan Gubernur Riau, Syamsuar, yang dinilai masih berupaya keras mempertahankan pengaruh dengan mendukung orang-orang dekatnya dalam perebutan kursi Ketua DPD Golkar Riau.
"Cukuplah Syamsuar. Sudah saatnya beliau istirahat dari panggung politik. Jangan paksa Golkar Riau untuk terus berada dalam bayang-bayang kekalahan dan konflik internal," tegas Helmi.
Lebih lanjut, Helmi mengingatkan, "Jangan seret kader-kader ke arah kehancuran demi kepentingan pribadi. Partai ini milik bersama. Kemenangan itu diraih dengan kerja kolektif, bukan ditentukan oleh siapa yang paling kuat mendorong orang-orangnya."
Menurutnya, Musda kali ini adalah pertarungan ide dan gagasan, bukan medan perpanjangan tangan kekuasaan. Jika Golkar ingin kembali berjaya di 2029, maka dibutuhkan sosok yang bersih dari beban kegagalan masa lalu, serta mampu membangun jaringan dan kepercayaan di tengah masyarakat.
"Ini momentum bersih-bersih. Kalau mesin politik yang rusak terus dipaksakan bekerja, hasilnya cuma akan makin mempermalukan partai. Mari kita jujur pada realita dan berani memilih perubahan," tutup Helmi.
Musda Golkar Riau ke depan menjadi ajang penentu arah: apakah Golkar tetap terjebak dalam kubangan konflik internal atau memilih bangkit bersama kader-kader berintegritas. Publik, dan terlebih kader Golkar sendiri, menanti langkah berani dan cerdas. (*)