Rokan Hulu--Rencana penutupan total Jembatan Sungai Rokan mulai 2 Mei 2025 selama enam bulan ke depan menuai beragam reaksi dari masyarakat. Banyak warga yang terdampak langsung terutama dalam aktivitas antar jemput anak sekolah, distribusi barang, hingga mobilitas harian lainnya.
Salah satu warga, R L Toruan, menceritakan kisahnya dimedia sosial dengan seorang ibu yang berniat menyewa kontrakan di seberang sungai demi memudahkan anaknya bersekolah.
“Bun, gimana kita besok antar anak sekolah? Biar mudah kita sewa kontrakan saja yuk, selama enam bulan,” ujar sang ibu. Toruan pun menanggapi dengan senyuman, “Saya ada rumah mertua di seberang, tapi kalau ngontrak di sana, makan dan usaha kami apa, Bun?”
Komentar pedas juga datang dari warga lainnya seperti Keyla Safira yang menyayangkan keputusan pemerintah hanya memperbaiki jembatan, bukan membangun yang baru. “RIAU yang katanya kaya rupanya miskin. Jembatan kok diperbaiki, padahal seharusnya dibangun yang baru dan modern,” tulisnya.
Warganet lain, seperti Edy Siswanto dan Dara Kuy, mempertanyakan mengapa tidak dibuat jembatan alternatif di sampingnya agar jembatan lama tetap bisa digunakan selama perbaikan. Bahkan beberapa warga menawarkan kontrakan sementara hingga menyarankan membuka jasa penyeberangan rakit sebagai peluang usaha.
Kekhawatiran terhadap dampak ekonomi pun mencuat. Dery Aditya memperkirakan harga bahan pokok akan naik, terutama bagi warga di daerah Pasir Pengaraian. Sementara Kusmana menilai kondisi ini sebagai dilema klasik. “Sebelum tahu jadwal perbaikan, ngeluh pemerintah tak peduli. Setelah tahu, ngeluh tak bisa lewat,” sindirnya.
Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu belum memberikan penjelasan rinci soal alasan tidak dibangunnya jalan atau jembatan darurat. Warga hanya bisa berharap proyek ini selesai tepat waktu dan debit air sungai tidak menghambat pengerjaan.
Semoga selama masa perbaikan ini, akses dan kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi melalui alternatif yang layak dan aman. (Juf)