Cina Akui Kemenangan Joe Biden

Sabtu, 14 November 2020 | 10:04:38 WIB

RIAUTERBIT.COM - Cina memberi selamat kepada Joe Biden yang telah terpilih sebagai presiden Amerika Serikat. Langkah itu diambil setelah Biden merebut cukup banyak suara electoral college untuk menuju Gedung Putih dan mengalahkan pejawat Donald Trump. 

 

"Kami menghormati pilihan rakyat Amerika. Kami mengucapkan selamat kepada tuan Biden dan nyonya Harris (Kamala Harris)," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Wang Wenbin, Jumat (13/11). 

 

Setelah kemenangan Biden terlihat usai beberapa hari penghitungan suara di beberapa negara bagian, banyak sekutu AS mengucapkan selamat. Sementara, para pemimpin Cina dan Rusia termasuk di antara negara yang tetap memilih bungkam untuk bersuara. 

 

"Kami memahami hasil pemilu AS akan ditentukan sesuai dengan hukum dan prosedur AS," kata Wang menegaskan sikap Beijing sebelumnya yang tidak ingin terburu-buru memberikan selamat. 

 

Penolakan Presiden Donald Trump untuk menerima kekalahan telah menempatkan Beijing dalam posisi yang canggung. Cina enggan melakukan tindakan yang dapat mengobarkan api lebih besar atas hubungan yang tidak baik dengan Trump. Apalagi, Trump telah mengajukan gugatan pengadilan terhadap pemungutan suara dan tetap menjabat sampai pelantikan pada 20 Januari mendatang. 

 

Hubungan antara Cina dan AS berada pada titik terburuk dalam beberapa dekade. Kedua negara berselisih mulai dari sektor teknologi, perdagangan, hingga soal Covid-19. AS di bawah pemerintahan Trump pun mengeluarkan rentetan sanksi terhadap Beijing. 

 

Trump pun dikabarkan baru saja menandatangani perintah eksekutif yang melarang investasi AS masuk ke sejumlah perusahaan Cina. Pelarangan itu berlaku bagi perusahaan yang dikelola atau dimiliki Pemerintah AS. 

 

Langkah terbaru Trump tersebut dilakukan untuk menekan Cina seusai pemilu AS. Aljazirah pada Jumat (13/11) melaporkan, perintah tersebut dapat berdampak pada perusahaan-perusahaan terbesar Cina, seperti perusahaan telekomunikasi China Telecom Corp Ltd, Cina.

 

Dengan adanya perintah itu, Trump yang dikalahkan Biden dalam pilpres AS disebut berusaha menggunakan sisa masa jabatannya untuk meningkatkan tekanan terhadap Cina. Tindakan Trump tampaknya akan memperburuk hubungan antara dua perekonomian terbesar di dunia. Washington dan Cina berselisih dalam isu pandemi virus korona, undang-undang keamanan Hong Kong, bahkan soal Laut Cina Selatan. 

 

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menilai kebijakan luar negeri AS di bawah presiden terpilih Joe Biden akan sama dengan Barack Obama. Seperti dilansir Daily Sabah, Lavrov mengatakan kemiripan akan terlihat dalam isu perubahan iklim.

 

Hubungan Washington dengan Moskow pasca-Perang Dingin memburuk ketika Rusia menganeksasi Krimea, Ukraina, pada 2014. Itu terjadi setelah AS memberikan sanksi pada entitas dan individu yang terlibat dalam aneksasi tersebut. Pada 2017, saat Biden menjabat sebagai wakil presiden dalam pemerintahan Obama, Lavrov menyebut Biden 'berhati kecil dan pendendam'. 

 

"Mereka meletakkan bom waktu dalam hubungan AS-Rusia, saya tidak mengira hal itu dari pemenang Nobel Perdamaian," kata Lavrov saat itu.

 

Pada Senin (10/11), Pemerintah Rusia menyatakan mereka akan menunggu hasil resmi pemilihan presiden sebelum mengomentarinya. Moskow masih bungkam mengenai kemenangan Biden. Namun, ada sedikit petunjuk pandangan dari Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai Biden dan Donald Trump. 

 

Selama kampanye, Putin sedikit mengerutkan dahi dengan retorika anti-Rusia Biden, tapi menyambut baik mengenai isu pengendalian senjata. Putin juga membela putra Biden, yakni Hunter, yang dicerca oleh Trump.

 

Badan intelijen AS mengatakan, Moskow mengintervensi pemilihan umum Amerika pada 2016 lalu, yaitu dengan merentas dan menyebarkan informasi palsu. "Kandidat Biden dengan terbuka mengatakan ia siap membuat perjanjian baru untuk membatasi senjata strategis dan ini elemen kerja sama kami yang paling serius pada masa depan," kata Putin pada awal Oktober lalu.(rep)

Terkini