Bupati Sesalkan Kesenian Kampar Mulai Dilupakan

Dibaca: 7072 kali  Minggu,30 Agustus 2015
Bupati Sesalkan Kesenian Kampar Mulai Dilupakan
Ket Foto : Bupati Kampar Jefry Noer

Pekanbaru,   (Riauterbit.com) - Bupati Kampar Jefry Noer mengungkapkan kekesalan setelah mengetahui budaya dan kesenian daerah itu yang mulai dilupakan oleh kebanyakan masyarakat di sana.

"Saat ini banyak kesenian khas Kampar yang kurang dikenal lagi oleh masyarakatnya sendiri dan ini menjadi tugas Dewan Pengurus Kesenian Kampar yang baru untuk jangan hanya berdiam diri saja," kata Jefry kepada pers di Kampar, Sabtu.

Jefry mengimbau Dewan Kesenian setempat untuk memperbanyak menampilkan kesenian khas daerah di tengah masyarakat.

Sebelumnya Bupati Kampar telah mengukuhkan Dewan Pengurus Kesenian Kampar (DKK) yang baru di Balai Bupati Kampar.

Jefry Noer juga menyayangkan banyak kegiatan baik di Kabupaten Kampar dan daerah tidak memakai kesenian Kampar.

"Saya juga meminta kepada seluruh SKPD ketika mengadakan acara wajib menampilkan kesenian asli Kabupaten Kampar," katanya.

Jefry menambahkan, Dewan Kesenian Kampar bertugas tidak hanya menggali kesenian daerah, namun juga merawat yang sudah ada.

Dan yang paling penting, lanjutnya, Kesenian Kampar harus meliputi unsur pendidikan, karena Kampar sangat kaya akan kesenian.

Jefry Noer juga meminta Dewan Kesenian untuk terus mengembangkan Kesenian Kabupaten Kampar,  paling tidak ada dua hal yang mesti dilakukan, pertama upaya eksternal.

"Dewan Kesenian harus menyikapi secara arif budaya luar yang mau masuk, dan kedua upaya internal, kita angkat kembali nilai-nilai lokal ke permukaan," katanya.

Bupati Kampar yang juga sebagai Dewan Penasehat di DKK meminta agar masuknya budaya luar harus diseleksi sehingga disesuaikan dengan muatan-muatan atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

"Muatan yang kurang pas tentu tidak diambil, sedangkan muatan-muatan yang positif atau justru prospektif bisa di kembangkan," katanya.

Selanjut kata Jefry, yang harus lakukan adalah memayarakatkan kembali kesenian Kampar untuk kembali dikenal masyarakat secara luas, bahkan dikenal hingga berbagai daerah luar Kampar.

Kesenian dan budaya luar menurut Jefry tidak harus dibenturkan dengan kesenian dan budaya Kampar atau sebaliknya. Demikian juga kesenian luar tidak dibiarkan menggusur kesenian lokal yang bisa berakibat budaya dan kesenian menjadi termarginalkan.

"Keduanya harus diberi ruang untuk bersinergi. Dengan kata lain, keduanya diposisikan secara komplementer atau saling melengkapi. Dengan itu, keberadaan kesenian lokal akan semakin mantap," katanya. (Adv)

Akses RiauTerbit.Com Via Mobile m.riauterbit.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »