Pemerintahan Jefry Noer Berhutang Beras Miskin Rp 1,3 M Kepada Bulog

Dibaca: 8105 kali  Minggu,16 Agustus 2015
Pemerintahan Jefry Noer Berhutang Beras Miskin Rp 1,3 M Kepada Bulog
Ket Foto : Ilustrasi

Pekanbaru, (Riauterbit.com) – Kabupaten Kampar ternyata memiliki hutang paling banyak diantara kabupaten kota se Provinsi Riau dalam hal hal pengadaan Beras Miskin (Raskin).

Tak tanggung-tanggung  hutang Raskin Kabupaten Kampar dibawah kepemimpinan Jefry Noer mencapai Rp, 1,32 milyar pada pagu berjalan Agustus 2015 ini. Hal ini terungkap setelah Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) Riau dan Kepulauan Riau menyebutkan bahwa Kampar merupakan salah satu kabupaten yang memiliki jumlah piutang terbesar dalam penyaluran beras miskin (raskin) di Provinsi Riau senilai Rp1,32 miliar.

“Jumlah piutang raskin sampai pagu berjalan Agustus 2015 tertinggi di Riau yakni Kampar senilai Rp1,32 miliar, disusul Bengkalis Rp1,3 miliar,” kata Kepala Bulog Divre Riau Kepri Faruq Octobri Qomary di Pekanbaru, Senin (10/8/2015).

Dia mengatakan, sedangkan untuk daerah Provinsi Kepri yang terbesar adalah Kota Batam senilai Rp1,025 miliar yang diikuti Kabupaten Rokan Hilir dan Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau masing-masing senilai Rp1,1 miliar serta Rp1,072 miliar.

Lalu sejumlah kabupaten/kota di Riau seperti Indragiri Hulu sebesar Rp760 juta, Dumai Rp678 juta, Pekanbaru Rp591 juta, Kuantan Singingi Rp522 juta, Rokan Hulu Rp460 juta, Indragiri Hulu Rp374 juta, Pelalawan Rp352 juta dan Siak senilai Rp150 juta.

“Itu masih di Riau, lain lagi yang berada di Kepri dan paling banyak itu berada di Kota Batam. Kalau dihitung jumlah total semuanya ada Rp11,585 miliar. Sampai hari ini baru terlunasi sekitar 22 persen,” ucapnya.

Faruq berharap, pemerintah daerah di dua provinsi itu bisa memerintahkan petugas kelurahan untuk membayarkan hutang, sehingga penyaluran raskin di sisa tahun 2015 tidak terhambat karena pihaknya tidak menyalurkan raskin bila piutang belum lunas.

“Kami khawatir, jika distribusi Bulog tersendat, maka jadi pemicu terjadinya gejolak harga beras dipasaran. Jika realisasi raskin tertahan, maka masyarakat kecil sebagai penerima manfaat akan membeli beras komersil dipasaran dan menggangu kestabilan harga,” jelasnya.

Berdasarkan data terakhir Bulog Divre Riau dan Kepri menyebut, realisasi raskin terhitung Januari sampai Agustus 2015 sudah mencapai 90 persen atau telah didistribusikan raskin sebanyak 32.209 ton dari pagu berjalan 35.086 ton.

Dengan pagu per bulan untuk kedua provinsi itu sebesar 4.385 ton raskin dan diperuntukkan bagi 292.388 rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTSPM).*



Sumber :gagasanriau

Akses RiauTerbit.Com Via Mobile m.riauterbit.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »