Amerika Serikat Masuki Pekan Tersulit Selama Krisis Corona

Dibaca: 1299 kali  Senin,06 April 2020
Amerika Serikat Masuki Pekan Tersulit Selama Krisis Corona
Ket Foto :

RIAUTERBIT.COM - Amerika Serikat (AS) memasuki salah satu pekan paling genting selama krisis virus corona dengan jumlah korban tewas melonjak di New York, Michigan, dan Louisiana. Sejumlah gubernur menyerukan perintah agar warga tinggal di rumah. 

New York, negara bagian yang paling terpukul, melaporkan pada Ahad (5/4) bahwa ada hampir 600 kematian baru dengan total 4.159 kematian dan 122.000 total kasus. Jenazah korban Covid-19 ditumpuk dalam kantong oranye terang di dalam kamar mayat sementara di luar Pusat Medis Wyckoff Heights di Brooklyn, menurut foto yang diberikan kepada Reuters.

Kepala operasional Korps Layanan Kesehatan Masyarakat AS Jerome Adams memperingatkan di Fox News Sunday bahwa masa sulit ada di depan. Tetapi, ada cahaya di ujung terowongan jika setiap orang melakukan bagian mereka selama 30 hari ke depan.

"Ini akan menjadi minggu paling sulit dan paling menyedihkan dalam kehidupan kebanyakan orang Amerika, terus terang. Ini akan menjadi momen Pearl Harbor kita, momen 9/11 kita, hanya saja itu tidak bersifat lokal," katanya. / "Itu akan terjadi di seluruh negeri. Dan aku ingin Amerika mengerti itu," lanjutnya.

Tempat-tempat seperti Pennsylvania, Colorado, dan Washington DC mulai menyaksikan peningkatan kematian. Gugus tugas penanganan virus corona Gedung Putih memperingatkan ini bukan waktunya untuk pergi ke toko kelontong atau tempat-tempat umum lainnya. 

Sebagian besar negara bagian telah memerintahkan penduduk untuk tinggal di rumah kecuali untuk keperluan penting. Hal itu guna memperlambat penyebaran virus di AS di mana lebih dari 321.000 orang dinyatakan positif dan lebih dari 9.100 orang telah meninggal.

Namun, beberapa gereja mengadakan pertemuan besar pada Minggu Palma, awal Pekan Suci di gereja-gereja Kristen. Dia telah menentang perintah negara untuk tidak berkumpul dalam kelompok besar dan telah dikenai enam pelanggaran ringan.

"Kami menentang aturan karena perintah Tuhan adalah menyebarkan Injil," kata Tony Spell, pendeta Gereja Life Tabernacle di pinggiran kota Baton Rouge, Louisiana. 

Louisiana telah menjadi tempat paling berbahaya dalam penularan virus. Pada Sabtu (4/4), negara bagian itu melaporkan lonjakan kematian menjadi 409 dan lebih dari 12.000 kasus. 

Gubernur John Bel Edwards mengatakan kepada CNN pada Ahad bahwa negara bagian itu kemungkinan kehabisan ventilator pada Kamis mendatang. 

Pakar medis Gedung Putih memperkirakan antara 100-240 ribu orang AS dapat terbunuh dalam pandemi, bahkan jika perintah untuk tinggal di rumah diikuti. Presiden Donald Trump memperingatkan pada Sabtu bahwa hari-hari ke depan bisa sangat mengerikan.

Gubernur negara bagian Washington Jay Inslee, yang negaranya mencatat infeksi Covid-19 pertama di AS, mengatakan jika negara-negara lain tidak juga memberlakukan tindakan tegas, virus hanya akan bersirkulasi. "Akan lebih baik jika memiliki perintah nasional untuk tinggal di rumah," katanya kepada NBC News.(rep)

Akses RiauTerbit.Com Via Mobile m.riauterbit.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »