Jeritan Hati Korban Penipuan Biro Umrah ke Pemerintah

Dibaca: 2562 kali  Rabu,04 April 2018
Jeritan Hati Korban Penipuan Biro Umrah ke Pemerintah
Ket Foto : Umarreng, tukang becak korban penipuan biro travel umrah.

RIAUTERBIT.COM - Korban-korban penipuan perjalanan umrah masih menggantungkan harapan bisa berangkat ke Tanah Suci. Mereka pun 'menjerit' meminta bantuan kepada pemerintah, khususnya pihak Kementerian Agama (Kemenag).

"Kami minta ada keseriusan dari pihak pemerintah. Kami mewakili teman-teman masih berharap bisa berangkat," ujar seorang korban First Travel, Rahmat Rosadi, di acara Mata Najwa, yang disiarkan Trans7, Rabu (4/4/2018).

Rosadi mengatakan hal tersebut langsung kepada Menag Lukman Hakim Saifuddin, yang hadir di acara Mata Najwa. Pria ini menceritakan ia dan ibunya menjadi korban penipuan First Travel.
 

Sejak mendaftar pada 2015 hingga saat ini, belum ada kepastian kapan Rosadi akan berangkat. Sampai akhirnya sang ibu meninggal dunia sebelum impiannya terwujud untuk menginjakkan kaki ke tanah suci.


"Ibu saya sudah meninggal. Kami daftar 25 Agustus 2015, pelunasan 2016. Ibu membayari saya, menjual tanah warisan," kisah Rosadi.

Bukan hanya Rosadi yang punya pengalaman buruk. Jemaah umrah dari Abu Tours, M Syahban Munawir (Awi), membagikan kisahnya. Meski bisa berangkat umrah, dia dan 99 orang dalam rombongannya sempat telantar di Malaysia saat akan kembali dari Arab Saudi.

Pria asal Makassar itu juga bercerita awalnya dia terancam gagal berangkat. Hingga akhirnya dia berdemo dan menyegel kantor Abu Tours sehingga berhasil umrah. Itu pun dengan penuh perjuangan. Selain itu, apa yang dijanjikan Abu Tours tidak sesuai saat di lapangan.

"Sangat jauh beda. Berangkat dari Makassar menuju Jeddah, transit ke Jakarta. Hotel tidak representatif untuk yang lain, kumuh. Kita dapat lumayan karena pernah demo," ungkap Awi.

"Kita sampai Jeddah pukul 23.00 waktu sana. Tim handling Abu Tours nggak ada. Tiga jam kemudian baru ada, kita terluntang-lantung. Fasilitas juga beda. Busnya satu jam perjalanan ganti lagi mau ke Madinah. Koper kita angkat sendiri," imbuhnya.

Kemudian tempat penginapan juga disebut Awi tidak sesuai. Bahkan ketika sampai di Arab Saudi, ternyata penginapannya belum dipesan oleh pihak Abu Tours.

"Tempat penginapan sesuai promo dekat dengan Masjid Nabawi. Saat sampai Madinah, mereka cari hotel dulu, kita jadi itu mutar-mutar dulu. Akhirnya dapat dan jaraknya 1 km. Saya setiap hari bolak-balik jalan 10 km, karena ibadah kan," papar Awi.

Tak hanya itu, salah satu agen mitra Abu Tours, Azizah, juga menyampaikan harapannya kepada Menag Lukman. Ia mengaku merasa terbebani para jemaah yang ikut promo Abu Tours melalui agennya, termasuk Umarreng, tukang becak yang menjadi korban Abu Tours.

"Seperti Pak Umar ini Pak. Saya berharap ada andil dari Kemenag. Kami agen bukan hanya tanggung materi, tapi juga beban moril, kami tapi tidak bisa tanggung beban moril itu," tutur Azizah sambil terisak.

Dalam acara Mata Najwa juga hadir sejumlah pihak. Seperti Sekjen Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), Firman M Nur. Dia lalu memberi saran mengenai ciri-ciri biro travel yang benar dan tidak bermasalah.

"(Biro) perlu ada referensi, kita harus pastikan biro tersebut punya izin. Yang berhak menyelenggarakan umrah adalah PPIU (penyelenggara perjalanan ibadah umrah), di masyarakat ada ribuan. Sementara PPIU (yang ada izin) hanya 906," kata Firman.

"Tapi dari 906, total biro yang gagal dan menelantarkan 13. Kurang dari 2 persen. Kita harapkan masalah ini tidak menurunkan semangat masyarakat untuk umrah. Asal memilih biro yang tepat. Cara ponzi tidak boleh dilakukan biro," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyoroti lambannya penanganan Kemenag dalam masalah penipuan biro umrah ini. YLKI sudah pernah berkali-kali melaporkan First Travel, sebelum kasusnya mencuat, tapi awalnya tidak ditanggapi dengan baik.

"Dari pengalaman kami, mediasi dengan Kemenag, respons Kemenag itu sangat lambat, bahkan ada beberapa (oknum) yang justru membela pihak biro yang kami laporkan. Saat awal First Travel ini, kami minta audiensi ke DPR juga tidak ditanggapi. Ke polisi juga seperti itu," urai Tulus.

Lalu anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan juga meminta Kemenag benar-benar memperhatikan nasib para korban. Dia meminta kepastian negara hadir bagi mereka.

"Bagaimana pengawasan diatur di PP, rencana perjalanan Kemenag harus tahu, operasional, skema keuangan biro perjalanan, harganya masuk akal apa nggak. Bagaimana dengan fungsi pembinaan, pengendalian," beber Arteria.

Menag pun langsung memberi jawaban atas keluhan-keluhan tersebut. Dia memastikan pihaknya terus berusaha memperbaiki. Saat ini Kemenag juga telah mengeluarkan regulasi. Mulai dari batas minimum harga hingga soal keberangkatan calon jemaah umrah.

"Pemerintah punya tanggung jawab pengawasan. Ini seperti fenomena gunung es. Umrah ini sepenuhnya ke masyarakat. harus diakui regulasinya belum maksimal untuk dilakukan pengawasan lebih baik," kata Lukman.

"Ketika masalah muncul baru, kita sadari ini tidak sederhana. Ini melibatkan PPIU, masyarakat itu sendiri, termasuk Kedutaan Saudi Arabia. Makanya kita bangun juga aplikasi SIPATUH," sambungnya.

Pihak kepolisian pun menjanjikan penegakan hukum kepada para pelaku kejahatan penipuan biro umrah. Saat ini Bareskrim juga tengah melacak aset-aset yang dimiliki biro travel itu.

"Kami berkomitmen untuk menyelesaikan kasus ini. Kita kerja sama melalui asset tracing (pelacakan aset) bersama PPATK, Kemenag. Maka kita juga buat satgas bersama," kata Wadirtipidum Bareskrim Polri Kombes Panca Putra.

Di akhir acara, ada seorang penonton yang menelepon ke studio Mata Najwa. Seorang warga Jakarta bernama Ali Muhammad Amin menyatakan siap memberangkatkan Umarreng, yang masih mengikuti acara Mata Najwa, untuk berangkat umrah.

"Saya dari Jakarta. Kebetulan saya mendengar cerita Pak Umar, saya tebersit untuk bisa memberangkatkan," ucap Ali melalui sambungan telepon.

Warga Asem Baris, Jakarta Selatan, itu berharap langkahnya bisa menjadi inspirasi orang lain agar bisa membantu korban-korban penipuan biro umrah. Umar pun merasa terharu atas bantuan Ali.

"Terima kasih banyak, saya syukur sekali bisa berangkat umrah," ujar Umar terbata-bata menahan tangis.(dtc)

Akses RiauTerbit.Com Via Mobile m.riauterbit.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »