Sigajang Laleng Lipa Saling Tikam Dalam Sarung, Cara Orang Bugis Selesaikan Masalah

Dibaca: 14257 kali  Sabtu,19 November 2016
Sigajang Laleng Lipa Saling Tikam Dalam Sarung, Cara Orang Bugis Selesaikan Masalah
Ket Foto : Ritual Suku Bugis Sigajang Laleng Lipa (Duel Badik Dalam Sarung)

RIAUTERBIT.COM — Bugis merupakan kelompok etnik atau suku dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Ciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat yang masih melekat kuat.

Suku Bugis banyak menyebar di seluruh provinsi Indonesia. Bahkan suku bugis banyak menyebar ke negeri Jiran Malaysia dan Singapura.

Suku Bugis tergolong ke dalam suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi.

Dalam perkembangannya, suku bugis membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang.

Dalam budaya suku bugis terdapat dua hal yang bisa memberikan gambaran tentang suku bugis ini, yaitu konsep Ade’, Siri na Passe. Ade’ adalah adat istiadat yang mesti dijunjung oleh masyarakat bugis, sedangkan Siri (malu) na Passe (rasa iba) adalah sikap yang tertuang dalam ade’ tersebut.

Siri memberikan prinsip yang tegas bagi tingkah laku orang bugis. Menurut pepatah orang bugis, hanya orang yang punya siri yang dianggap sebagai manusia. Naia tau de’ gaga sirina, de lainna olokolo’e. Siri’ e mitu tariaseng tau, Artinya (Barang siapa yang tidak punya siri (rasa malu), maka dia bukanlah siapa-siapa, melainkan hanya seekor binatang.

Makna “siri” dalam masyarakat bugis sangat begitu berarti sehingga ada sebuah pepatah bugis yang mengatakan “Siri Paranreng Nyawa Palao”, yang artinya : “Apabila harga diri telah terkoyak, maka nyawa lah bayarannya”.

Begitu tinggi makna dari siri ini hingga dalam masyarakat bugis, kehilangan harga diri seseorang hanya dapat dikembalikan dengan bayaran nyawa oleh si pihak lawan.

Karena, siri’ na pesse itu merupakan jati diri bagi orang Bugis-Makassar maka jika ada pihak keluarga saling bertikai hingga tidak menemukan titik temu maka jalan yang diambil adalah jalan adat yakni ritual sigajang laleng lipa’ (saling tikam dalam sarung)

Sigajang laleng lipa adalah sebuah ritual menyelesaikan sebuah masalah, adat ini yang berasal dari Sulawesi Selatan, Sigajang Laleng Lipa adalah dua orang berduel dalam satu sarung menggunakan badik/kawali (senjata tradisional masyarakat bugis).

Dua perwakilan keluarga yang bertikai harus diselesaikan dengan saling tikam di dalam sebuah sarung. Tradisi yang di lakukan pada masa kerajaan Bugis merupakan upaya terakhir dari suatu permasalahan adat yang tidak bisa terselesaikan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat, walaupun nyawa jadi taruhannya, namun jika melakukan sigajang kedua bela pihak yang bertikai tidak harus lagi ada rasa dendam yang terpendam dan menganggap perkara sudah selesai.

Konon, Sigajang Laleng Lipa/Sitobo laleng lipa ini kerap terjadi pada masa kerajaan bugis kala dalam sarung keluarga merasa harga dirinya terinjak. Karena ke 2 keluarga tersebut merasa benar, maka permasalahan ini harus diselesaikan dengan Sigajang Laleng Lipa.

Walaupun kadang hasil dari Sigajang Laleng Lipa kebanyakan berakhir imbang. Kalau tidak sama-sama meninggal, keduanya sama-sama hidup.

Akan tetapi seiring dengan kemajuan pendidikan maka ritual semacam ini telah ditinggalkan oleh masyarakat bugis makassar, Namun kini tradisi Sigajang ini telah dilestarikan sebagai warisan budaya leluhur Sulawesi Selatan, yang dipentaskan diatas panggung.

Pementasan ini di awali dengan aksi bakar diri meski lengan penari dibakar dengan obor namun para penari tetap terseyum seolah tidak merasakan panas sengatan api, setelah itu barulah kedua kubu perserta sigajang leleng lipa di beri mantra oleh seorang bissu (waria suci) dan melakukan pementasan sigajang laleng lipa.

Adapun Nilai-nilai dari ritual Sigajang Laleng Lipa (duel satu sarung), yang diartikan sarung sebagai simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Bugis Makassar, berada dalam satu sarung berarti kita dalam satu habitat bersama.

Jadi sarung yang mengikat kita bukanlah ikatan serupa rantai yang sifatnya menjerat, akan tetapi menjadi sebuah ikatan kebersamaan di antara manusia.


Sumber :
jurnalite.com


 

Akses RiauTerbit.Com Via Mobile m.riauterbit.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »