Lelo Kerajaan Diletuskan, Tradisi Tanda Perayaaan Idul Fitri di Gunung Sahilan

Dibaca: 7466 kali  Sabtu,09 Juli 2016
Lelo Kerajaan Diletuskan, Tradisi Tanda Perayaaan Idul Fitri di Gunung Sahilan
Ket Foto : Tokoh Adat dan Para Pewaris Kerajaan Turun Membaur Bersama Rakyat

RIAUTERBIT.COM – Saban 2 Syawal mungkin menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat yang ada di Gunung Sahilan, selain merayakan Idul Fitri, ada satu acara yang selalu ditunggu-tunggu yaitu perayaan lebaran adat alias lebaran ka Gun. Lebaran ini jatuh pada tanggal 2 Syawal.

Persis hari lebaran adat itu, anak kemenakan sudah berkumpul di rumah sompu masing-masing, untuk di Gunung Sahilan ini sendiri ada Tujuh (7) suku yakni Suku Melayu Darat, Melayu Palokoto, Piliang, Mandailing, Pitopang, Domo, dan Chaniago, tentunya ada tujuh rumah sompu juga di Gunung Sahilan ini.

Bagi masyarakat Gunung Sahilan, rumah sompu adalah tempat berkumpul bagi anak kemenakan satu suku. Disanalah mereka saling bermaafan dengan ninik mamak, sekaligus juga membicarakan soal masa depan suku, tanah soko, perincian uang soko. Dan disini pula tempat silaturrahim antara anak cucu ninik mamak dengan sanak famili yang tinggal diluar Gunung Sahilan.

“Duaaaarrrrr!!!!!!”

Dari kejauhan sudah terdengar dentuman meriam. Kalau orang Gunung Sahilan sendiri menyebutnya Lelo. Meriam tenteng yang sudah berumur ratusan tahun. Meriam yang konon rampasan dari tentara portugis itu bersemayam di dalam istan, persis berada diruang belakang istana.

Biasanya sepekan sebelum dipakai, Lelo ini di-mandi balimau dulu selama tiga hari berturut-turut. “Itulah Kebiasaan yang ada. Sebab kalau tidak balimau dulu, akan ada bala atau kecelakaan yang terjadi,”cerita Azirman, Juru kunci istana Gunung Sahilan ini.

Jika pada Kamis pagi dibulan Juli itu suara meriam sudah terdengar, maka ini pertanda bahwa arak-arakan sudah akan dimulai.

Dan lantaran lelo sudah berbunyi, maka ninik mamak yang satu mulai menjemput ninik mamak yang lain. Menurut tradisi yang ada disana, arak-arakan dimulai dari rumah sompu maliliang atau mandailing untuk menjemput mamak dari suku lain. Sompu ini persis tidak jauh dibelakang Gun (Alun-alun) istana, tempat acara lebaran adat.

Lalu disusul oleh suku pitopang, melayu palokoto, piliang. Setelah itu baru melayu darat yang sompunya dekat sompu mandailing, domo dari sebelah kiri Gun dan Chaniago yang berada di dekat Mesjid Nurul Iman.

Setelah ngumpul, mereka kemudian berarak bersama anak kemenakan serta malin, tokoh agama ke Gun. Arak-arakan ini dihiasi oleh irama gong dan calempong. Namun sebelum sampai di Gun mereka singgah dulu di istana menjemput pewaris kerajaan.

Dari istana inilah semuanya berangkat ke Gun. Pewaris kerajaan Tengku Nizar menggunting pita di gerbang Gun. Dia didampingi Datuk Godang Utama Warman dan Datuk Bosou Zainal. Pita digunting, barulah semua masuk ke tempat acara.

Layaknya acara kenegaraan, pewaris kerajaan bersama arak-arakan disambut oleh tari persembahan dan pencak silat.

“Duaaaaarrrr!!!!” lelo yang kedua kembali berbunyi.

Seperti dikomando, para lelaki yang memegang tonggou atau bendera masing-masing suku langsung mendirikan tiang yang sudah dipasangi bendera. Tadinya tonggou setinggi enam meter yang biasanya dipegangi oleh dua orang lelaki itu masih berdiri miring. Setelah lelo meletus barulah ditegakkan sempurna.

Acara resmi itu kemudian diisi oleh sejumlah pidato. Mulai dari tokoh masyarakat, malin, pemerintah hingga yang terakhir pewaris kerajaan.

Puncaknya, lelang makanan yang dikemas bercampur nasi kuning pun digelar. Lelang yang disebut-sebut bertujuan untuk menambah duit ongkos acara ini tergolong unik. Sebab makanan yang dilelalng cuma satu paket. Hanya saja paket ini bisa berpindah tangan hingga ke beberapa orang.

Setiap yang sudah menawar dan memegang paket lelang itu berhak menunjuk seseorang untuk memegang lelang yang sudah dia tawar dan orang yang baru yang memegang itu membuka tawaran pula. Kalau sudah tak ada lagi yang menawar, maka si penawar terakhirlah yang berhak. Paket lelang yang tak pernah digelar di jaman kerajaan ini bisa mencapai tawaran seharga Rp 5 Juta.

Jika semua acara sudah rampung, maka lelo  kembali didentumkan. Dentuman ketiga itulah yang menjadi pertanda kalau puncak acala lebaran adat itu selesai.
(KamparKab)

Akses RiauTerbit.Com Via Mobile m.riauterbit.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »