Yaumul Milad Ke-69 Himpunan-Ku, Bukti Nyata Dalam Mengabdi Untuk Negeri Ini

Dibaca: 10717 kali  Jumat,05 Februari 2016
Yaumul Milad Ke-69 Himpunan-Ku, Bukti Nyata Dalam Mengabdi Untuk Negeri Ini
Ket Foto : Vidiel Tania Pratama, Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Riau Kepulauan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Batam

Oleh:  Vidiel Tania Pratama (Kader HMI Cabang Batam)

Enam puluh sembilan tahun telah berlalu, perjalanannya laksana bayangan yang selalu mengawal yang empunya, tak peduli tatkala itu hujan ataupun panas, selalu mengikuti kemanapun berada, demikianlah himpunanku menjaga negeriku. Empat tahun sudah aku menjadi bagian dari himpunan itu, menghabiskan masa mudaku, mewarnai masa mahasiswaku. Ya, masa muda yang indah penuh harapan dan impian dan dia takkan balik berulang.

Belakangan ini negeriku penuh dengan cerita misteri, kegaduhan mulai terlihat disana-sini seakan menjadi bubur ayam dipagi hari, dan himpunanku pun mulai tak bertaji, sering menghilang menutup diri.

Hari ini disaat aku membuka mata mulailah orang-orang tua melalui pengalamannya bercerita tentang adanya seorang pemuda berjiwa ksatria bernama Lafran pane, putera Sultan Panguraban Pane. Katanya dialah sang pelopor himpunanku berdiri, entah apa sebenarnya yang dipikirkannya saat itu untuk mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini, yang jelas mereka bercerita tentang apa yang mereka alami dan apa yang mereka perbuat untuk himpunanku ini, juga aku, asik mendengarkan cerita yang tak pernah aku ketahui, hanya dapat berharap tau, sedang yang sudah mereka lewati tak semua yang dapat diceritakan.

Sementara dr. Sulastomo mantan Ketua Umum PB HMI 1963-1966 pernah bercerita, "ketika seorang mahasiswa Lafran Pane, mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam pada 1947, sebagaian besar mahasiswa yang diajaknya untuk ikut serta adalah para mahasiswa perguruan tinggi umum, mereka mendirikan HMI antara lain justru karena ingin belajar Islam, dan mungkin sebuah ide yang cemerlang saad mereka merumuskan pendirian HMI".
Juga mereka, para senior yang terlebih dahulu mengabdikan diri untuk himpunan ini, sebagaimana halnya seorang manusia yang mempunyai cerita-cerita indah yang pernah ia lewati.

Aku pernah bertanya didalam hati, " apakah yang pernah aku perbuat untuk himpunanku? Apakah sudah kupahami islam sebagai agamaku?", sedang mereka yang dahulu berjuang begitu bersemangat ketika bercerita kepada kami juniornya.

Sekarang himpunanku lebih banyak bereforia dengan serimonialnya, membanggakan diri dengan idialismenya yang tidak pernah mengemis kepada penguasa pemerintah, sedang himpunanku sekarang mungkin lupa dengan anggaran kongres yang menghabiskan dana Milyaran Rupiah, dengan dalih silaturahmi secara nasional.

Padahal mereka sering berteriak memakai toa bersuara kepentingan rakyat, namun tetap mengunyah enak uang rakyat. Tapi, sudahlah semuanya sudah berlalu, tinggal kita tunggu apa yang bisa kita lakukan untuk negeri ini. Kita sering berdiskusi membahas bangsa hingga menguras persediaan didalam otak, namun kita lupa ujung nama himpunan ini Islam, sering kita berdiskusi hingga subuh, namun melupakan sholat subuh. Sedang sang pelopor mendirikan himpunan ini untuk mempertegak, mengembangkan ajaran agama Islam dan mempertinggi derajat rakyat dan Negara Republik Indonesia.

Hari ini Himpunanku bersuka cita meniup terompet kebahagiaan, setiap cabang bersama KAHMI nya menghabiskan anggarannya masing-masing, tidak ada yang salah, itu semua wajar dilakukan oleh Organisasi Mahasiswa tertua dinegeri ini. PB HMI tentu tidak mau kalah dengan apa yang dilakukan junior-juniornya, tahun lalu saja live di tv Nasional dengan anggaran Miliaran Rupiah, jangan ditanya dari mana sumber dananya.
Aku tak tahu betul adakah catatan ini cukup tepat atau tidak untuk menggambarkan himpunanku ini, setidak-tidaknya semua harus diawali, dan LK1 adalah awal ceritaku di Himpunan ini, sama seperti teman, senior, dan junior-juniorku yang lainnya. Aku berkata junior, sebab Empat tahun sudah aku menghabiskan waktuku bersama himpunanku, sudahlah tentu aku punya junior, walau banyak lebih pintar mulut daripada otak, namun itu tak berarti sebab setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya.

Tidak lain dari orang lain yang membanggakan perkumpulannya, juga aku membanggakan himpunanku, Himpunan Mahasiswa Islam yang tak pernah berganti nama sedari dulu, orang mengenalinya dengan nama HMI, begetar selaput gendangku ketika mendengar kata HMI, bahkan kata mereka darahku pun sudah berganti warna menjadi hijau.  Almarhum Jendral Soedirman pernah berkata "Himpunan Mahasiswa Islam adalah Harapan Masyarakat Indonesia". Perkataan itu membuatku bangga, terharu dan membakar semangat jiwa mudaku, hal itu ia sampaikan disaad dies natalis HMI ke-1, bisa dibayangkan baru seumur bayi yang merangkat HMI sudah menjadi Harapan Masyarakat Indonesia, salahkan jika aku membanggakannya? Aku rasa tidak, disaat agresi militer Belanda II, HMI ikut serta turun gelanggang mempertahankan kemerdekaan bangsa ini, lalu persoalan Nasionalisme apalagi yang dipertanyakan kepada himpunan ini?.

69 tahun adalah bukti nyata himpunanku dalam mengabdi untuk negeri ini, tidaklah salah apabila negara ini menjadikan beliau ayahanda Prof. Drs. Lafran Pane sebagai pahlawan nasional. Aku tidak akan banyak bercerita tentangnya, cukup orang-orang yang mengetahui dan mengenali beliau saja yang meceritakan siapa dia. Aku hanya seorang pengagum yang berharap dia menjadi pahlawan nasional.


Editor: Alamsah, SH

Akses RiauTerbit.Com Via Mobile m.riauterbit.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »